Bab 44, Cinta Tak Berujung.
Balkon
belakang itu hanya berbentuk dak beton. Sebuah kursi dan meja plastik
terparkir di sana. Tampak siluet Kugy duduk memunggunginya. Kepalanya
menengadah, menatap langit senja. Rambutnya tergerai di sandaran kursi,
berkibar halus ditiup angin.
Keenan menahan napas. "Kecil..."
Siluet itu
terduduk tegak seketika. Kugy menoleh, mendapatkan Keenan sudah berdiri
di hadapannya. "Kamu... kok... bisa ada di sini?" ia bertanya, terbata.
"Radar
Neptunus", jawab Keenan ringkas seraya tersenyum sekilas. Ia lalu
berjalan mendekati Kugy. Berjongkok di depannya. "Kenapa harus ngilang,
Gy?" tanyanya halus.
"Aku juga
nggak tahu kenapa", Kugy menggelengkan kepala, "tiap hari aku di sini,
cuma untuk cari tahu kenapa. Dan masih belum tahu jawabannya".
"Saya mau
bantu kamu. Boleh?" Keenan lantas meraih tangan Kugy. "Empat tahun saya
kepingin bilang ini: Kugy Karmachameleon, saya cinta sama kamu. Dari
pertama kali kita ketemu, sampai hari ini, saya selalu mencintai kamu.
Sampai kapan pun itu, saya nggak tahu. Saya nggak melihat cinta ini ada
ujungnya".
Kugy terenyak. Pandangannya mulai mengabur. Matanya terasa panas oleh air mata yang ingin bergulir turun tapi ia tahan.
...
"Luhde nggak layak disakiti," desis Kugy lagi.
"Remi juga", timpal Keenan lirih.
Kugy
menunduk, mengerjapkan mata. Ia hampir tidak bisa melihat apa-apa lagi
dari matanya yang kian mengabur.Hari semakin gelap. Angin semakin halus.
Hatinya semakin perih.
"Banyak sekali yang ingin saya lakukan bareng kamu, Gy", bisik Keenan.
Kugy mendongak. Tersenyum sebisanya. "Bisa. Pasti bisa. Kita tetap bisa bikin buku bareng, kan? Dan aku tetap bisa jadi sahabatmu". Kugy nyaris tersedak mengucapkan kata terakhir barusan. Menyadari bahwa persahabatan barangkali adalah muara terakhir yang harus ia paksakan untuk menampung seluruh perasaannya pada Keenan. Tak bisa lebih dari itu. Begitu luas laut yang membentang dalam hatinya. Namun, lagi-lagi, harus ia tahan.
"Iya. Kita tetap bisa bikin karya bersama. Dan kita selalu menjadi sahabat terbaik",
Keenan menelan ludah. Kalimat itu begitu susah diucapkan. Apalagi
ketika segenap hatinya berontak, menolak. Namun, ia teringat janjinya,
pada Luhde, pada Remi. Jika ini memang bantuan yang Remi butuhkan, sama
seperti ketika Remi menolongnya dulu, maka ia akan menggenapkannya.
"Nan...",
Kugy menggenggam balik tangan Keenan, suaranya makin lirih, "banyak yang
aku ingin bilang ke kamu. Banyak yang ingin aku kasih. Tapi, nggak
apa-apa, nggak usah. Mungkin memang bukan jatahku. Bukan jatah kita.Kamu
turun ya, Nan, pulang".
Kenan
mengangguk. Memang tak ada lagi yang perlu dibicarakan. Hanya akan
membuat hatinya makin terluka. "Kamu juga jangan kelamaan di sini, Gy.
Udah malam." Keenan menyentuh pipi Kugy sekilas. Perlahan, berjalan
pergi.
Air mata
Kugy akhirnya jatuh bergulir, membuat pandangannya kembali terang, meski
langit sudah gelap, dan Keenan tinggal bayangan hitam yang berjalan
menjauh. "Nan...", panggilnya.
"Ya?", Keenan berbalik.
"Aku nggak
kepingin, sepuluh .. dua puluh tahun lagi dari sekarang, aku masih
merasa sakit di sini tiap kali ingat kamu." Kugy merapatkan tangannya di
dada.
Keenan tercekat mendengarnya. "Nggak, Gy. Nggak akan. Kalau saya bisa, kamu juga bisa"
"Dan kamu yakin kamu bisa?", tangis Kugy.
"Pasti..."
Suara Keenan bergetar. Penuh keraguan, kebimbangan, da kegentaran.
Namun, ia tak mungkin lagi mundur. Satu-satu, dituruninya tangga besi
itu. Lenyap dari pandangan Kugy. Harus ada yang bisa, batinnya, kalau tidak... Keenan menggosok matanya yang berkaca-kaca. Ia tidak bisa mengingat, kapan hatinya pernah sepilu ini.
Di tempat
yang sama, Kugy menangis bisu. Ia berjanji, inilah tangisan terakhirnya
untuk Keenan, sekaligus tangisan yang paling menyakitkan. Ia bahagia
sekaligus patah hati pada saat yang bersamaan. Saat ia tahu dan
diyakinkan bahwa mereka saling mencintai, dan selamanya pula mereka
tidak mungkin bersama.
-Perahu Kertas, Dewi Lestari
sumber: Fairuz Habibah
Tidak ada komentar:
Posting Komentar
Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.