Pages

Jumat, 17 Mei 2013

Untitled

Prissa memandang layar ponselnya, pasrah. Ia menunggu sesuatu yang tak pasti. Berharap pesan-pesan yang telah ia kirim dibalas oleh orang di ujung sana. Ia merasa gelisah. Posisi duduknya berulangkali ia ganti. Terlihat jelas bahwa ia sedang memikirkan sesuatu.

'Hhhh', desahnya pelan. Sekali lagi, melirik ke arah ponselnya.

'Hampa! Kosong! Semuanya semu! Bohong!' teriaknya sambil bangkit berdiri masuk ke dalam kamarnya. Mengambil boneka beruang coklat berukuran besar kesayangannya. Lalu kembali menuju teras, duduk di tempat sebelumnya sambil memeluk boneka itu erat.

30 menit.

60 menit.

2 jam.

3 jam.

Ia menunggu berjam-jam. Berkali-kali pula melihat layar ponselnya dan mendesah putus asa. Pelukan pada bonekanya semakin erat. Terlihat dari jari-jarinya yang mengeras dan memerah. Matanya panas oleh air mata yang tak sabar ingin meloncat turun. Ekspresi wajahnya terlihat sangat putus asa. Tanpa harapan.

'Hampa! Kosong! Semuanya semu! Bohong!' sekali lagi ia berteriak. Urat-urat di lehernya terlihat mengencang. Dan saat itu juga bulir-bulir air matanya berjatuhan. Melewati pipinya yang merah. Desah napasnya yang tak beraturan. Dan seketika jatuh terduduk ke lantai.

'Hampa! Kosong! Semuanya semu! Bohong!' teriaknya. Teriakan yang melemah seiring banyaknya air mata yang terjatuh.

'Aku benci kamu! Aku benci kita!' kali ini ia berteriak dengan kata-kata lain.

'Aku juga punya perasaan! Aku tak suka menunggu! Aku tak suka dipermainkan!'

Perlahan guntur di luar mulai bersahutan. Hujan pun turun mengiringi tangisan Prissa.

'Aku sayang kamu Dion. Aku sayang kamu. Karena hujan ini...' ucapnya pelan sambil bangkit berdiri dan berjalan masuk ke rumah.

-

Annisa Primasari.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Catatan: Hanya anggota dari blog ini yang dapat mengirim komentar.

designed by Charming Templates